tiba-tiba ada teriakan yang mengingatkan kamu untuk menjauhi gerbang itu, untuk tidak sedikitpun mengambil satu langkah lagi, dan kembali mundur.
tapi itu hanya sebuah teriakan bukan jemputan. tetap sendiri, dan masih sendiri, disana...
ketika fisik sudah di ujung batas, bara semangat sudah mulai padam, sepi tanpa bising, tanpa penerangan.
kembali terjatuh di tempat yang sama. orang macam apa aku ini?
ketika kaki sudah lelah untuk berjalan, ketika senyum sudah hilang karena tekanan, ketika hari berbeda 180 derajat.
menghampiri....dihindari
mulut memang selalu terkunci, tapi mata ini tidak bisa menghindar
suatu ketika, duduk disamping gerbang itu. ingin kembali tapi seperti tidak memiliki tenaga untuk mengerakkan tubuh ini
pada akhirnya mulut ini berbicara, "aku lelah. disini sepi."
berpikir tidak akan pernah ada yang menjemputku disana. tapi aku salah. lagi-lagi, sosok itu...
"maaf aku meninggalkanmu sendiri disini" sosok itu yang seperti tidak lelah menghampiriku sejauh ini.
"maafkan aku yang tidak ingin memberitahumu. aku sedang rindu hariku yang dulu. ingin keluar sebentar saja dari lingkaran ini"
tidak bersuara. sepasang mata yang seolah-olah berbicara, seutas senyum yang seolah-olah turut jatuh dan mengerti, dan tangan kokoh yang dengan erat membawa saya kembali ke tempat awal saya memulainya.
lagi dan lagi...sosok itu
ya, sosokmu cukup mewakilkan saya yang sedang rindu dengan mereka. terima kasih, untuk yang kesekian kalinya
semoga posting ini mewakili segudang perasaan yang tidak bisa saya tulis disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar